ceritaku

12 agustus 2008

by: Khadijah

Jatuh Bangun Kisah Kepongpong

 

ini adalah segelintir kisah dari  berjuta cerita putra putri bangsa. Terlalu banyak sampai berceceran di sudut kepulauan bumi pertiwi. Kisah nyata namun terasa maya tuk di terka. Kisah yang terlalu pelik bagi permasalahan bangsa yang semakin rumit. Dan terlalu nista jika dibiarkan begitu saja.

Kisah ini berawal dari kehidupan seorang gadis desa di ujung kuburan (bukan kuntilanak lho, tapi karena samping dan depan rumahnya terdapat tempat peristirahatan terakhir alias kuburan). Anak kelima dari sembilan bersaudara. Lahir dari rahim seorang buruh batik yang selalu sabar dan tegar menghadapai Sang suami yang kadang kerja kadang tidak, pada hal masih banyak tanggungannya. Bukan. Bukan karena dia tidak punya pekerjaan tetap apalagi pemalas, sama sekali bukan. Dia hanya seorang buruh tua yang lelah dan telah menyerahkan seluruh hidup anak, istri dan dirinya sendiri kepada Rabbnya. Namun demikian dia sadar bahwa do’a tanpa ikhtiar adalah seribu banding satu, artinya jika diibaratkan dari seribu kemungkinan ada orang yang menjalani kehidupannya hanya dengan doa maka hanya satu orang yang akan benar-benar menuai hasilnya alias sukses. Oleh karena itu dia imbangi dengan ikhtiar, walaupun ala kadarnya (emang makanan, mangga alakadarnya) maksudnya, semampunya.

Gadis itu bernama Sisi. Gadis jangkung yang hijrah ke jilbabnya saat mengakhiri masa SMP itu pernah mengenyam pendidikan di SMA favorit yang sudah terkenal dengan hight kuality-nya. Walaupun ia tahu bersekolah di SMA itu sama saja dengan menjadi kuli panggul pasar Bogor. Karena dia harus sekuat tenaga membanting tulang walaupun tulangnya tinggal selembar karena terlalu kurusnya untuk bembiayai pendidikan yang diembankan pada diri dan keempat adiknya. Apapun akan dia tempuh selagi masih ada di “jalur kanan” mulai dari jual kue kering, jual jambu  biji sampai. dengan jual diri pun dia lakuin (maksudnya menawarkan diri untuk bekerja dirumah orang gitu). Sampai pada suatu hari di tahun ketiga pendidikannya dia di hadapkan oleh dua pilihan. Dia tersudut oleh kerasnya kehidupan yang menyuguhkannya sesuatu yang harus dipilih. Anatara pendidikannya atau keempat adiknya…dia benar-benar bingung. Di dalam lubuk hatinya dia ingin melanjutkan sekolah hingga lulus atau bahkan bisa sampai kuliah, tapi di sisi lain keempat adiknya lebih membutuhkan pendidikan itu. Kondisi itu diperburuk dengan melonjaknya harga bahan baku batik sehingga mau tidak mau bapaknya harus berhenti dari pekerjaannya. Sisi sebagai anak paling besar yang belum berkeluarga merasa bertanggung jawab atas masalah ini. Siang malam dia berpikir bagaimana caranya agar bisa mengatasi masalah tanpa bikin masalah alias dia sendiri tidak putus sekolah. Tidak mungkin Sisi meminta tolong keempat kakaknya sementara mereka sendiri dalam kondisi yang sama.

Ketika di kelas Sisi diadakan rapat tentang studi tour, temen-teman sisi menyarankan untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya agar teman yang tidak mampu pun bisa ikut, yaitu dengan berjualan, mengamen dan mencari dana ke orang tua murid. Ironis memang, di saat aku lagi bingung mencari uang untuk biaya sekolah, ini malah ribut mencari dana untuk hura-hura bin bersenang-senang walaupun judulnya study tour, tetap saja buang-buang duit buat bersenang-senang. Di kelas, Sisi merasa miris sendiri tapi bagaimanapun dia tetap bagian dari kelas itu jadi dia harus berpartisipasi walaupun sekedar menjadi pendengar yang baik. Dan itu ada hikmahnya juga, dia jadi terinspirasi ingin menjual nasi uduk buatan ibunya yang rasanya mak nyus banget apalagi sambal tomat plus gorengannya yang krispi itu pasti laku berat kalau dijual di sekolah. Dia yakin usahanya akan berhasil, setidaknya bisa menambal uang saku keempat adiknya. Sesampainya di rumah ,dia ceritakan idenya itu. Dan sejak saat itu dia tidak lagi berstatus pelajar tapi PPNU (Pelajar Penjual Nasi Uduk)

Setiap hari dia berangkat dengan bapaknya. Dia dengan sepeda mininya membawa beraneka ragam gorengan sedangkan bapaknya membawa satu kardus nasi uduk. Ketika sampai di angkot dia kewalahan sendiri karena terlalu banyak bawaannya, sedangkan Sang bapak mengantarkannya hanya sampai jalan raya. Namun itu semua dia jalanin dengan senang hati sehingga dia merasa nyaman dengan rutinitasnya itu. Allah Maha Besar . Setelah memberinya riski lewat nasi uduknya, Allah memberinya karunia yang yang membuatnya sujud syukur. Dia mendapat beasiswa berprestasi dari pemerintah. Dia mendapatkannya setelah dua tahun dia mencari dan menunggu. Beasiswa itu cukup untuk setahun terakhir dia sekolah. Sedangkan adiknya bebas biaya selama satu semester. Allah maha penolong. Perjuangannya tidak sia-sia.

Perjuangan belum berakhir. Masih panjang jalan yang harus ditempuh. Sisi harus menyongsong mimpi dan cita-cita yang selama ini ada  dan selalu bersemayam dalam hatinya. Dia harus melanjutkan kuliah. Bukannya dia nggak tahu diri atau nggak ngaca, yang namanya manusia kalau punya impian kan wajar, iya nggak?dan mimpi Sisi itu pengen banget kuliah. Apakah dia bisa kuliah?? Ikuti terus ceritanya.

Pada suatu hari, di saat semua murid sibuk dengan urusan PMDK, USMI dan segala macam akronim lainnya yang dia sendiri belum hafal kepanjangannya, Sisi siswa kelas 3 IPA 5 ini di panggil oleh guru BK. Dia di tawarkan untuk ikut PMDK, tapi dia menolak dengan alasan dia takut di terima, terus dari mana biaya kuliahnya. Dia berfikir, dia tidak punya modal untuk masuk universitas, kecuali ada beasiswa yang mau dengan senang hati mengantarkannya ke gerbang universitas impiannya. Dia menolak dengan halus tawaran tersebut, tapi apakah kalian tahu guru BK itu bilang apa? Dengan santainya beliau bilang “wah dasar kamu sih pengennya gratis aja. Jaman sekarang mana ada yang namanya sekolah gratis . Orang itu harus berusaha, jangan maunya sekolah gratis dan hidup enak .orang kaya juga tidak begitu”. Sisi yang sensitif langsung merembes air nakal di matanya. Ko ada ya guru BK yang kaya gitu, harus di privat Bahasa Indonesia yang baik kaya gimana, harus di cekokin bahasa yang baik untuk menghadapi siswa rentan kaya saya itu bagaimana?emangnya saya apaan, saya juga nggak mau gratisan kalau saya punya banyak duit. Saya cari beasiswa kan karena emang saya nggak mampu. Huh gimana sih??? katanya dalam hati. Sekilas memang kaalimat-kalimat itu nggak bermasalah tapi kalau di telaah lebih jauh, sungguh menyakitkan apalagi bagi orang kaya Sisi. Itu sangat menyayat hati sekali bin amat banget (lebay….. )

Seminggu kemudian Sisi dipanggil lagi oleh guru BK, tapi dengan guru yang berbeda. Sisi trauma dengan yang namanya BK. Yang ada dalam otaknya BK itu khusus untuk konselingnya anak-anak orang kaya. Sedangkan bagi dirinya, mau konsultasi? Ke laut aja kali.tapi setelah di bujuk-bujuk dengan dalih bahwa guru BK ini akan menawarkan dia beasiswa masuk universitas, akhirnya Sisi mau juga menemui guru BK itu. Sisi berusaha menepis semua peraaan jerek yang menyerang, positive thinking lebih baik deh, hiburnya. Ternyata benar apa yang dikatakan temannya.

Sisi langsung memberi tahu kabar baik ini kepada orang tuanya. Senang juga sih orang tuanya dan membolehkan Sisi mengikuti seleksi itu tapi dengan syarat “ kalu Sisi lolos seleksi, Sisi boleh ambil beasiswa itu dengan catatan orang tuanya tidak mau ikut campur dengan segala macam pembiayaan. Konotasi negatifnya mereka lepas tangan. Tapi jika Sisi tidak lolos seleksi maka terpaksa namun dengan senang hati lowongan pekerjaan di karawang terbuka lebar untuk Sisi.

Setelah perjanjian itu, Sisi nekat mengikuti serangkaian seleksi beasiswa yang kalau dihitung-hitung ada lima tahap, bayangkan saudara-saudara lima tahap!?!tapi demi imipiannya, apa sih yang nggak Sisi lakuin?!? Sisi jalani semuanya dengan senang hati mulai dari seleksi administrasi, akademik, wawancara, SPMB dan terakhir peringkat Nasional.

Pada saat mengikuti SPMB, Sisi semangat sekali. Walaupun dia tidak ikut bimbingan belajar tapi dia yakin akan lolos SPMB. Dan ternyata dia bias membuktikannya. Sisi benar-benar lolos SPMB, dia diterima di sebua institute yang punya nama di kalangan perguruan tinggi.. Ketika mendengar dia lolos SPMB, dia merasa senang karena kerja kerasnya tidak sia-sia. Tapi ketika melihat pengumuman bahwa siswa yang lolos seleksi harus segera daftar ulang. Dia bingung karena dari beasiswanya sendiri  belum ada pengumuman. Sisi boleh senang lolos SPMB tapi belum tentu dia lolos seleksi beasiswa. Setelah SPMB ada satu seleksi lagi, yaitu peringkat nasional. Sisi kebingungan. Dia ingin meminjam hp temannya untuk menghubungi pihak beasiswa itu tapi dia tidak enak. Sisi takut merepotkan. Sedangkan minta di belikan hp sungguh tidak mungkin, duit dari mana? Nggarong?? Katanya sadis pada dirinya. Setelah lama merenung, dia baru ingat kalau dia punya saudara sepupu yang punya hp. Kemudian dia mendatangi sepupunya itu dan menelpon pihak beasiswa. Betapa kecewanya dia ketika mendengar bahwa pengumumannya baru keluar seminggu kemudian, tepatnya hari seninnya. Sedangkan massa daftar ulang hanya seminggu. Apa langsung daftar ulang aja ya, nggak usah nunggu beasiswa itu. Kalu lolos ya syukur tapi kalu nggak juga kan masih banyak beasiswa yang lain. Tapi duit dariman abuat daftar ulangnya?? Sisi pilang dengan kepala bingung.

Sepulang dari rumah sepupunya, dia ceritakan semuanya kepada orang tuanya.

“ya sudah tunggu saja sampai hari senen, kalau hari senen kamu nggak dihubungin, berarti kamu nggak masuk. Harus lapang dada.” Kalimat itu yang keluar dari muluit bapaknya.

Sisi hanya mengurut dada saja. Dan mengiyakan apa yang dikatakan bapaknya. Dia tahu kalau dia membelotpun nggak ada gunanya. Jadi lebih baik dia diam.

Sehari berlalu. Lama sekali rasanya menunggu satu minggu. Dua, tiga dan satu minggu kemudian belum juga ada telpon untuk Sisi. Sampai hari senen yang di janjikan tidak ada juga kabar yang menyatakan dia diterima. Dia hancur, pupus sudah cita-cita yang selama ini dia jaga. Sejenak dia memang merasakan dunia ini tidak adil, tidak mendukung dan dia sangat sakit menerima kenyataan itu. Dia tidak tahan lagi menahan air matanya yang dari tadi mengendap-endap ingin di tumpahkan. Dia khilaf.

Sejam kemudian ada sesuatu yang menyelip di antara relung hatinya yang patah.secercah sinar yang mampu menerangi gelap otaknya yang ruwet. Seperti gelombang halus yang meluruskannya hingga berfungsi lagi. Mampu berfikir dengan jernih lagi. Sesuatu itu adalah untaian kalimat-kalimat yang pernah di tulis oleh seorang khalil gibran

Setitik airmata menyatukanku dengan mereka yang patah hati; seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan… Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan…dari pada aku hidup menjemukan dalam keputusasan.

Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali dirinya sendiri.

Kemudian dia mapu mengendalikan semuanya. Dia sadar dengan terus menerus larut dalam kesedihan hanya akan membuatnya lemah dan semakin tidak berguna. Keputusasaan hanya akan membuatnya semakin jauh jauh dari masa depan yang cerah.  Dia harus bangkit. Masih banyak yang harus dilakukan. Keempat adiknya, masih sangat membutuhkannya. Dia tidak boleh egois.

Keesokan harinya dia mau menyambut uluran tangan ibunya. Dengan kelapangan hati Sisi melengkapi persyaratan untuk pelamar kerja. Dia hadapi status job seekernya dengan senyum. Dia yakin suatu saat dia akan menemukan apa yang dia cari. Sesuatu yang hilang akan dia dapatkan lagi.

Dua hari setelah itu Sisi berangkat bersama ibunya ke Cikampek untuk melancarkan aksinya sebagai job seeker. Beberapa perusahaan dan supermarket di datangin. Kerja keras dan pantang menyerah melaju kencang jika hatinya sudah sreg.dia

Tidak segan-segan melakukan apa saja yang menjadi persyaratannya kecuali yang satu ini. Ketika melamar di salah saju took baju yang namanya telah mashur, dia diminta untuk melepas jilbabnya. Sungguh berat sekali persyaratan itu. Dia tidak mungkin melakukan itu, tidak mungkin dia mengkhianati Tuhannya. Ikrarnya terlanjur menacap jauh dalam hatinya. Namun seraut wajah letih telah menggoyahkan bahkan mencabut apa yang sudah tertancap. Dia luluh dengan kata-kata syetan yang meluncur melalui mulut  mungil ibunya. Dia tidak berdaya melihat wajah kuyu itu. Hatinya sakit, retak dan hancur ketika pertama kali daam tiga setengah tahun ini dia harus melepaskan jilbabnya. Dia seperti herhempas ke dunia yang sama sekali tidak pernah dia tahu. Dan ketika berjuta mata menatapnya, dia seperti terkuliti, habis tanpa ampun. Namun ketika sepasang mata sayu itu menatapnya, seutas senyum itu menyapanya dengan tulus dan bisikan halus  itu membuainya

            “tenanglah. Ini untuk sementara. Allah juga ngerti.”

Setelah itu dia berjanji. Apapun yang terjadi dia tidak akan melepas jilbabnya walaupun harus nyawa yang jadi taruhannya.

            Keesokan harinya dia kembali ke kota kelahirannya. Dia menunggu hasilnya di rumah karena ibu Sisi harus merawat adiknya yang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Sementara menunggu, Sisi mengisi waktunya dengan membatik, lumayan untuk sekedar jajan adiknya. Menurutnya membatik juga bias ngilangin stress juga karena membatik merupakan pekerjaan yang menyangkut seni.

            Hari berganti hari, bibiku semakin parah dan m3enurut dokter beliau harus segera di operasi karena tumor yang menyerang payu darahnya semakin membesar dan bias membahayakan organ yang lain sehingga harus segera di angkat. Sementara di rumah, Sisi menerima telepon dari pihak beasiswa. Mereka memberi kabar bahwa sebenarnya Sisi diterima alias lolos seleksi akhir. Namun karena ada kesalahan teknis sehingga ada keterlambatan dalam pemberitahuannya. Sisi tidak tahu apakah ini suatu mimpi, mimpi di saat orang sedang berdo’a untuk seberhasilan adik bapak yang sedang dioperasi, sangat tidak mungkin. Ini sama sekali bukan mimpi. Ini kenyataan. Ya Allah, apa yang harus hamba katakan selain Allahu Akbar..!!!

            Di balik kegembiraannya, dia kembali bingung. Apakah harus di ambil atau di biarkan begitu saja, menguap bersama sedihnya dulu. Dia harus secepatnya mengambil keputusan karena menurut pihak beasiswa yang meneleponnya yang ternyata bernama Setiobudi sudah sangat terlambat untuk registrasi. Bayangkan, ospek saja sudah selesai, masa ini baru registrasi. Kacau sekali ini. Tapi dia tidak bias mengambil keputusan ini tanpa orang tuanya. Tidak mungkin juga dia ke rumah sakit dan berteriak-teriak “ hore, aku diterima. Aku lolos” sementara keluarganya sedang khusuk mendoakan bibi. Dengan berbagai alasan Sisi meminta pada mas budi agar keputusannya baru bias besok disampaikan.

Sisi menunggu orang tuanya datang dan dia akan memohon dengan sangat agar orang tuanya mau menerima tawaran mas Budi itu. Sisi bertekad akan mengambil kesempatan ini. Dia tidak akan menyia-nyiakannya.

Setelah operasi bibinya selesai, orang tuanya pun pulang. Dan saat itu Sisi menceritakan maksudnya. Syukurlah orang tuanya mengabulkan permintaannya. Hari itu juga Sisi dan orang tuanya berangkat ke kota yang sama sekali belum pernah mereka datangi. Menurut Sisi sendiri tidak ada gambaran sedikitpun tentang kota itu. Tapi berkat tekad yang kuat dan bimbingan dan pantauan mas Budi, akhirnya mereka sampai juga.

Sekarang Sisi bisa menyenyam bangku kuliah. Dia tidak akan menyia-nyiakannya beasiswa itu. Dia akan belajar dengan serius.Terima kasi mas Budi, Terima kasih Etos, Terima kasih semuanya yang telah menyalurkan zakatnya ke Dompet Dhuafa Republika.

 

 

PERJUANGAN BELUM SELESAI. SISI ADALAH IBARAT KEPONGPONG YANG HARUS TERUS BERJUANG DAN BERMETAMORFOSIS SEHINGGA MENJADI KUPU-KUPU YANG INDAH DAN DAPAT BERMAFAAT UNTUK SEKITARNYA KARENA DIA HIDUP DARI LINGKUNGAN SEKITARNYA.

 

 

Add comment 6 am8000000513100000051 2008

Nulis???why not……..

Jujur, aku suka banget yang namanya nulis. Dulu, waktu kelas empat SD, aku mendapat tugas merangkum materi sejarah perjuangan Indonesia. Saking sukanya nulis, materi itu nggak aku rangkum. Kalian tahu apa yang ku lakukan? Aku menyalin semua isi buku sejarah perjuangan indonesia yang ku pinjam dari sekolah. Aku masih ingat tugas itu sering ku kerjakan tiap malem dan paling semangat lagi, ku kerjain pas malem Minggu. enapa coba??? Soalnya kalo malem minggu ,sekalian nemenin kakakku pacaran (he….pis kaka) selain menghindari hal2 yang tidak diinginkan, itu sangat menguntungkan bagiku. jadi ada cemilannya deh, gimana nggak? setiap ngapel, pacarnya kakakku pasti bawa makanan. seru kan, nulis sambil ngemil???bukannya aku mendukung orang pacaran, tapi selagi itu masih ada di “jalur kanan” dan paling penting menguntungkan ku, kenapa nggak???(he…….)

itu dulu. sedikit bandel sih, jangan ditiru ya………….!!!berlanjut ke SMP. aku masih suka nulis, biasa dan belum berubah. aku masih suka nulis atau mencatat materi sejarah. kali ini beda. waktu itu udah ada peningkatan. nggaklagi semuanya satu buku aku tulis, tapi udah dirangkum. ngerangkumnya juga nggak sambil nemenin orang pacaran, malu dong dah gede. itu kelas satu. naik kelas dua, ada peningkatan bro/sis, udah mulai coba bikin puisi (cie…maklum udah terkontaminasi deangan sinetron, apa hubungannya y?nggak tahu ah…). Berlanjut ke kelas tiga, nggak cuma puisi tapi diare, eh diare ( emang mules???) bukan tapi diary. Singkat2 aja sih. Paling cuma (pemborosan kata banget ya!!!) hari ini aku kesel, kecenganku ternyata udah punya cewek. huh, kesel banget nih misalnya. atau panjangan dikit kaya gini misalnya hari ini aku seneng……..banget cz ada kakak kelas yang ganteng buanget, kaya Ben Joshua. dia ngedeketin sambil senyum ke aku coba diary, bayangkang diary, bayangkan !!!!! atiku udah dag dig dug tapi belum duar. pas nyampe di depan ku dia bilang ” gw boleh pinjem pensi lo?” aku tertsentak, trus aku berusaha menahan sesuatu yang pengen banget aku tahan. sekuat tenaga, sampai perut dan mulut pun aku pegangin, tapi gagal. tawa ku pun meledak.ha….ha…..kamu tahu kenapa aku ngakak, dia ngomong dgan gaya bancis gitu deh,,ganteng2 ko bancis. astafirulla….

lanjut ke SMA, aku makin suka nulis (bukan dalam arti mencatat lagi lho..). biasa lah puisi…waktu itu aku udah sempet bikin cerpen sih tapi nggak pernah sampai selesai. maklum idenya dateng kalo aku lagi sibuk, lagi banyak PR dan lagi banyak kerjaan di rumah. trus kalo mau ditulis pas waktu senggang, eh idenya ilang ketika aku cari lagi, nggak ada . repot banget kan? trus kalo udah kaya gitu giamana bisa bikin cerpen utuh coba? aku bingung giamana ngatasinnya…aku terus mikir gimana caranya ya?? sapai akhirnya aku nemuain ide, menurut ide ku, semakin banyak wawasan seseorang maka akan semakin banyak idenya dan akan semakin mudah pula untuk menuangkan idenya itu. mencari wawasan salah satunya dengan dengan membaca. maka mulai saat itu aku suka membaca , ya aku suka dan demen banget baca novel. trus naik ke kelas dua, minat baca novel ku sedikit kendor, pasalnya di kelas ku ada suatu wabah yang telah menjalar hampir ke semua penghuninya. wabah itu berasal dari jepang, wabah itu bernama wabah komik. anak2 gila komik semua tu, aku aja hampir kena. untungnya kepalaku menolak mentah2 kalo aku baca komik, semacem pusing gitu kalau aku baca komik (soalnya kalu aku baca komik, mulainya suka dari belakang so, ga nyambung kan???)selain itu baca komik tu ga da seru2nya bgt deh, ga bisa ngebayangin situasinya so serasa ga menyertai cerita tersebut. OK, naik ke kelas tiga.,.karena tuntutan tugas bahasa indonesia, aku berhasil merampungkan novel perdanaku yang menurutku paling TOP. lumayanlah beberapa temen ku ngasih penghargaan ke aku berupa acungan dua jempol…(gpp, walaupun berupa jempol)

sejak saat itu aku jadi suka nulis. ya cerpen lah, puisi lah, novel lah (tapi baru setengah, keburu UN). sayangnya karya2 ku yang numpuk itu tidak pernah aku publikasikan.pasalnya aku masih belum yakin kalau karyaku itu bener2 berkualitas alias nggak pede gitu. Namun setelah aku masuk kuliah, ada secercah sinar (cie bahasanya…) yang menerangi hati ku, memberi kekuatan untuk membuktikan dan menunjukkan karya2 ku kepada dunia. ini lho aku, seorang penulis yang tertutup tirai hitamnya ketidak-pede-an (huuahh….). akhirnya aku berani mengikuti lomba2 yang berhubungan denga tulis menulis. Namun Allah memberi kesempatan padaku untuk menikmati rasanya bersabar karena selama aku mengikuti lomba, tidak satu pun namaku lolos sebagai juara…kendatipun demikian aku tidak pernah merasa putus asa. aku tetap suka nulis apalagi setelah bertemu dengan Asma Nadya ( siapa yang tidak kenal novelis cantik itu?) aku semakin yakin bahwa suatu saat aku pasti bisa jadi penulis dan mampu menerbitkan buku best seller.

TUNGU KARYA-KARYAKU WAHAI SELURUH RAKYAT INDONESIA YANG SAYA CINTAI

Add comment 6 pm1000000593100000059 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 comment 6 am11000000523100000052 2008


Categories

  • Blogroll

  • Feeds